GuidePedia

0
Di lingkungan gereja-gereja Prostestan umumnya, kepada warga gereja atau calon anggota gereja selalu diajarkan bahwa kekristenan adalah agama ”kasih karunia”, sedangkan agama-agama lainnya adalah agama ”amal perbuatan”. Maksudnya: di dalam kekristenan, Allah dipandang sebagai Allah yang dengan kasih karunia-Nya mendatangi manusia untuk menyelamatkan manusia, dan keselamatan ini tinggal diterima saja dengan kepastian besar oleh manusia;[1] sedangkan di dalam agama-agama lain, manusia digambarkan berusaha mendatangi dan mencapai Allah atau mendapat perkenan-Nya melalui usaha-usaha atau perbuatan-perbuatan atau amal ibadah manusia itu sendiri, sehingga pada akhirnya orang non-Kristen akan selalu diperhadapkan pada ketidakpastian besar akan keselamatan dirinya.

Di dalam mengajarkan suatu agama, orang juga mempersaksikan, atau menjadi saksi atas, agama itu. Jadi, kalau seorang Kristen mengajarkan bahwa suatu agama adalah agama ”amal perbuatan”, berarti ia mempersaksikan atau menjadi saksi bahwa memang demikianlah agama yang diajarkannya itu. Demikian juga halnya bila ia mengajarkan bahwa agama Kristen (agamanya sendiri) adalah agama kasih karunia. Apakah memang demikian keadaannya? Apakah memang orang Kristen sudah dengan jujur menjadi saksi atas agama-agama lain yang dianut oleh manusia lain sesamanya? Di dalam Kitab Suci gereja, Alkitab, ditegaskan perintah ini, ”Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Keluaran 20:16), dan perintah ”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Imamat 19:18; Matius 22:39 dan par.). Supaya orang Kristen tidak terjatuh ke dalam tindakan melanggar perintah-perintah ini, baik sekali apabila mereka meneliti untuk menemukan apakah di dalam agama-agama lain kasih karunia Allah tidak dikenal dan tidak menentukan, apakah orang Kristen sudah berlaku jujur terhadap diri sendiri (sebagai wujud mengasihi diri sendiri) apabila mereka mengatakan bahwa di dalam agama Kristen perbuatan itu sama sekali tidak menentukan pandangan Allah terhadap manusia

Tulisan ini diajukan dengan maksud seperti yang baru saja dikemukakan. Yaitu mengadakan penelitian pendahuluan yang singkat dan sangat terbatas mengenai pokok kasih karunia ilahi di dalam agama-agama lain. Penulis menyadari bahwa agama dan kehidupan beragama apapun adalah suatu fenomenon yang teramat kompleks. Dengan demikian, tulisan ini tentu saja tidak akan menyelesaikan banyak (apalagi semua) persoalan dalam kehidupan suatu agama dan, apalagi, antar agama-agama. Ada persoalan-persoalan di dalamnya yang relatif mudah diatasi karena masing-masing Kitab Suci agama-agama dan pandangan tokoh-tokohnya memuat titik-titik temu; tetapi ada banyak juga persoalan di dalamnya yang sukar (malah mungkin juga tidak akan pernah) terselesaikan karena bukan titik-titik temu yang dijumpai, melainkan titik-titik perbedaan bahkan titik-titik pertentangan tajam. Sudah seharusnya penyataan-penyataan ilahi yang ditanggapi oleh manusia dalam lingkungan-lingkungan sosial-budaya dan zaman-zaman yang berbeda-beda melahirkan, menumbuhkan dan mengembangkan agama-agama yang bukan saja satu sama lain berisikan titik-titik temu, melainkan juga titik-titik perbedaan atau malah titik-titik pertentangan tajam.


Karunia Keselamatan dalam Agama Islam


Setiap insan muslim yang takwa, kita tahu, dalam memulai suatu pekerjaan atau tindakan apapun (misalnya: makan, minum, menyembelih binatang untuk dimakan dan sebagainya) tidak lupa mengucapkan ayat 1 dari surat Al Faatihah Alquran dalam bahasa Arabnya. Ayat ini dalam bahasa Indonesianya berbunyi demikian:
[2]

Dengan menyebut nama Allah
yang Maha Pemurah (Arab: Ar Rakhmaan)
lagi Maha Penyayang (Arab: Ar Rahiim)

Enam ayat selanjutnya dari surat ini lengkapnya berbunyi demikian:

Segala puji bagi Allah
Tuhan semesta alam
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Yang menguasai hari pembalasan
Hanya kepada Engkaulah
kami menyembah
dan hanya kepada Engkaulah
kami mohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus
(yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka;
bukan (jalan) mereka yang dimurkai
dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Dalam catatan penjelasan dari Departemen Agama RI atas ayat 1 surat Al Faatihah, dikatakan Ar Rakhmaan berarti ”Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya”, sedang Ar Rahiim berarti ”Allah senantiasa bersifat rahmat yang menyebabkan Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.” Sedangkan ayat 2 berarti ”menyanjung Allah karena perbuatan-Nya yang baik”, karena Ia adalah ”sumber dari segala kebaikan”, Tuhan ”atas semua yang diciptakan-Nya yang terdiri dari berbagai-bagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya.” ”Hari pembalasan” pada ayat 4 dijelaskan sebagai ”hari yang di waktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk.” Ayat 5 menyatakan sikap tunduk dan sembah dari manusia kepada Allah karena ”kebesaran-Nya” dan ”kekuasaan-Nya yang mutlak atas manusia.” Kepada Allah yang Maha Besar dan berkuasa mutlak atas manusia ini, manusia ”mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup diselesaikan dengan tenaga sendiri”.

Permohonan minta tolong kepada Allah karena ketidaksanggupan manusia diungkapkan pula dengan sangat menyentuh hati di dalam surat Al Baqarah ayat 286 yang lengkapnya berbunyi demikian:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakan dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdo’a): ”Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Dalam Kitab Suci Alquran edisi bahasa Inggris dan tafsirannya yang diterbitkan berdasarkan Keputusan Raja Fahd (No. 12412, tanggal 27/10/1405 AH), seruan di dalam ayat 286 surat Al Baqarah dijelaskan demikian: Karena mereka yang berdoa itu ”mengetahui betapa besar kegagalan orang-orang sebelum mereka”, mereka ”berdoa supaya beban-beban mereka hendaknya diringankan, dan mereka mengakui dan sadar bahwa mereka memerlukan kasih karunia dan pengampunan Allah lebih besar lagi.”[3]

Dari penjelasan-penjelasan pendek di atas terhadap beberapa ayat Alquran dapat disimpulkan bahwa memang Islam menekankan perbuatan atau amal manusia yang akan diperhitungkan Allah pada Hari Pembalasan; namun mengingat keterbatasan dan ketidaksanggupan manusia, yang pada akhirnya dimohonkan dan berlaku adalah kasih karunia Allah yang Ar Rakhmaan dan Ar Rahiim, yang menjadi sumber dari segala kebaikan dan kasih karunia. Karena itu, bagi seorang insan muslim, hidup berimannya adalah, memakai kata-kata Nurcholish Madjid, hidup ”bersandar sepenuhnya kepada Allah, tempat manusia menggantungkan harapan”, ”hidup dengan penuh tekad dan harapan kepada Allah swt”, hidup dengan memandang ”positip dan optimis kepada Allah.” Inilah ”hidup mempercayai Allah.”[4]


Karunia Keselamatan dalam Agama Hindu


Orang-orang Kristen juga diajarkan bahwa agama Hindu adalah agama politeis, agama yang menerima dan mempercayai banyak ilah, agama ”alam” yang mempersonifikasikan kekuatan-kekuatan alam dalam sosok para dewa. Tetapi mari dengarkan apa yang dikatakan I Made Titib, orang Bali, doktor di bidang agama Hindu.
[5] Menurutnya, sepintas lalu Kitab Weda (sebagai Kitab Suci utama agama Hindu) menyampaikan ajaran politeisme, tetapi sesungguhnya tidaklah demikian.[6] Kutipan-kutipan mantra/sloka dari Kitab Weda berikut ini tampaknya menempatkan agama Hindu sebagai agama politeis.

Mereka menyebut Indra, Mitra, Waruna, Agni dan Dia yang bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok; Yang Maha Esa itu oleh orang-orang bijaksana disebut dengan banyak nama seperti: Agni, Yama dan Matariswan. (Rg Weda I.1164.46)

Agni hanyalah Itu, Aditya hanya Itu, Wayu hanyalah Itu, Candra adalah Itu; cahaya adalah Itu, Brahma adalah Itu, Apah adalah Itu, Prajapati adalah Dia. (Yajur Weda XXXII.I)

Dua sloka di atas memperlihatkan sepertinya yang dipuja dalam Weda adalah kekuatan-kekuatan alam (”politeisme alamiah”); tetapi sesungguhnya tidak demikian. Mantra-mantra berikut menegaskan keesaan Allah (monoteisme).[7]

Kekuatan yang menjadikan matahari bersinar itu adalah Aku yang tunggal. (Yajur Weda XL.17)
Tuhan Yang Maha Esa adalah Maha Besar dari segala yang ada. (Rg Weda III.55.1)
Ia Maha Esa, tidak ada duanya, daripada-Nyalah semua makhluk tercipta.
(Chandogya Upanisad VI.2.1)

Menurut I Made Titib, Tuhan Yang Maha Esa disebut dengan banyak nama yang beragam karena manusia itu terbatas dalam membayangkan Tuhan yang Maha Esa Yang Tidak Terbatas. Kitab-kitab Upanishad menegaskan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tidak Terbatas ini sangat sulit diberikan batasan, sebab batasan cenderung mempersempit pengertian mengenai Tuhan Yang Maha Agung itu. Untuk menyebut ketidakterbatasan Diri Allah ini kitab-kitab Upanishad memakai kata-kata ”Neti-neti!”, artinya ”Bukan ini!” Selain Tuhan Yang Maha Esa yang diungkapkan dengan banyak nama dan peran ini, agama Hindu juga mengenal dewa-dewa yang bukan sekadar gejala alam atau personifikasi kekuatan alam, melainkan sebagai hakikat-hakikat adikodrati yang menguasai fenomena alam. Monoteisme dipertahankan dengan jalan menaklukkan dewa-dewa ini kepada Dewa Tertinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, yang juga disebut sebagai ”Tat” (Itu) atau ”Sat” (Kebenaran Mutlak), sehingga ketuhanan dalam agama Hindu digambarkan sebagai pantheon, Sidang Para Dewa dengan Tuhan Yang Maha Esa sebagi Dewa Tertinggi.[8]

Tuhan Yang Maha Esa digambarkan memiliki dua segi: Tuhan Yang Berpribadi dan Tuhan Yang Tanpa Pribadi. Dua segi ini masing-masing menggambarkan sifat keadikodratian dan sifat kekodratian Tuhan Yang Maha Esa. Sifat kekodratian, tanpa pribadi, dari Tuhan Yang Maha Esa ini abstrak, mewujud di dalam hukum tertinggi, prinsip yang mengatur tertib alam semesta. Sedangkan Tuhan Yang Maha Esa sebagai ”Pribadi” digambarkan transenden (adikodrati), sebab tidak ada wujud atau bandingan apapun untuk menggambarkan-Nya. Tuhan Yang Adikodrati ini Tad awyaktam, aha hi, artinya ”sesungguhnya, Tuhan itu tidak terkatakan.”[9] Penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang Berpribadi dilakukan melalui Bhakti (upacara kebaktian) dan Karma Marga (kerja yang tulus ikhlas dan pengabdian yang tinggi). Pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang Tanpa Pribadi dilakukan melalui Jnana dan Yoga Marga (filsafat ketuhanan dan yoga samadhi/meditasi).

Sifat apakah yang diperlihatkan oleh Tuhan Yang Maha Esa yang kepada-Nya manusia mengabdi? Mantra berikut menyatakan Tuhan Yang Maha Esa itu Penyangga, Pemelihara dan sangat Pemurah.

O Agni, Engkau adalah Indra yang Maha Agung....
Engkau adalah Wisnu yang Maha Luas,
Yang kekuasaan-Nya patut dipuja,
Engkau adalah Brahmanaspati,
Brahman yang memiliki kekayaan,
Engkau adalah Penyangga,
Yang memelihara kami dengan kebijaksanaan.
Engkau adalah raja Waruna yang selalu
Menegakkan hukum sebagai Mitra Pencipta keajaiban
Kepada-Mu kami memuja
Engkau Aryaman dewa pahlawan
Yang memperbanyak segala yang ada
Engkau adalah Amsa yang sangat pemurah (Rg Weda II. 1,3,4)

Yajur Weda XL. 17 menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa itu Pelindung Cemerlang:

Oh umat manusia, oleh-Ku,
Pelindung Cemerlang, telah Kututupi wajah-Ku yang abadi
Kekuatan yang menjadikan matahari
Bersinar di sana adalah Aku
Aku membentang di angkasa raya.
Om adalah nama-Ku (AUM Kham Brahma)

Dalam doa Subhasita umat Hindu, Tuhan diyakini sebagai Ibu dan Bapak Yang Sejati, sahabat dan teman terkasih.

Ya Tuhan Yang Maha Esa,
Engkau adalah Ibu dan Bapakku yang sejati
Sahabat dan teman terkasihku
Engkau sumber pengetahuan dan Pemberi kekayaan
Bagi hamba Engkau adalah segalanya,
Dewata tertinggi.

Dalam Bhagavadgita IX.22, Krisna mengamanatkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan anugerah-Nya kepada umat-Nya yang berbakti kepada-Nya:

Mereka yang memuja Aku sendiri,
Merenungkan Aku senantiasa,
Kepada mereka Aku bawakan
Apa yang mereka perlukan
Dan Aku lindungi apa yang mereka miliki

Sebagai Ibu dan Bapak Sejati, maka Tuhan Yang Maha Esa dalam pandangan Hindu, memakai kata-kata I Made Titib, akan ”turun menyelamatkan umat-Nya” ketika umat-Nya berseru kepada-Nya mohon pertolongan dan perlindungan.[10] Di dalam bahaya, anugerah Tuhan Yang Maha Esa akan menyelamatkan, seperti dinyatakan berikut ini:[11]

Jika kamu merenungkan Aku,
Maka kamu akan mengatasi segala bahaya
Karena anugerah-Ku
(Bhagavadgita XVIII.58; IX.30-31; XVIII.56,62)

Jelas, di dalam monoteisme dari Hinduisme, Tuhan Yang Maha Esa digambarkan sebagai Tuhan yang berkasih karunia, yang kepada-Nya umat mengabdi. Dialah Bapak dan Ibu Sejati bagi manusia; Dialah kawan sejati terkasih bagi setiap insan.


Karunia Keselamatan dalam Agama Buddha


Dalam Dhammapada yaitu kumpulan sabda pengajaran Gautama Buddha,
[12] pada bab XIV.12-13 (tentang ”sang Buddha”) terdapat ucapan Gautama yang berbunyi demikian:

Ia yang berlindung kepada Buddha,
Dhamma, dan Sangha, akan melihat
Empat Kebenaran Mulia dalam pengertian
yang benar: Dukkha (penderitaan),
sebab dari dukkha,
lenyapnya dukkha;
dan Jalan Mulia Beruas Delapan
sesungguhnya inilah perlindungan yang aman,
perlindungan yang paling utama dan azasi.
Dengan mencari perlindungan semacam ini,
orang akan terbebas dari penderitaan, dukkha.

Pembebasan dari penderitaan (dukkha) dialami apabila Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Beruas Delapan[13] dipahami dengan benar; tetapi pemahaman yang benar hanya akan diperoleh kalau orang berada dalam perlindungan Buddha, Dhamma (pengajaran) dan Sangha (paguyuban). Ucapan Buddha Gautama ini dapat dipahami dari dua sudut aliran Buddhisme: aliran Theravada (”Jalan Para Sesepuh”) atau Hinayana (”perahu/rakit kecil”) dan aliran Mahayana (”perahu/rakit besar”).

Aliran Theravada menekankan bahwa tercapai atau tidaknya Nirvana bergantung kepada usaha sendiri dan tanggungjawab pribadi seseorang; tidak ada bantuan atau rakhmat apapun yang diberikan kepadanya untuk mencapai tujuan itu. Dengan memperhatikan ucapan sang Buddha berikut ini, maka ”perlindungan sang Buddha” dalam ucapan di atas jelas tidak mengacu kepada bantuan atau rakhmat yang berasal dari luar diri manusia itu sendiri:

Sesungguhnya, penguasa atas diri manusia adalah dirinya sendiri,[14]
diri sendiri pula tempat berlindung (bagi diri sendiri)
Karena itu kendalikanlah dirimu, seperti seseorang mengendalikan kuda tunggangannya.
(Dhammapada, XXV.21)

Sabda di atas menunjukkan bahwa Gautama Buddha tidak mengikat orang kepada diri-Nya sendiri dalam hubungan-hubungan yang bergantung pada diri-Nya.[15] Dalam banyak ucapan-Nya, Buddha Gautama memang menekankan tanggungjawab murid-murid-Nya sendiri untuk mengusahakan pembebasan (mencapai Nirvana) bagi masing-masing diri mereka sendiri. Antara lain:

Bukan dengan memakai wahana-wahana itu seseorang
dapat tiba di tempat yang tidak dapat dimasuki;
melainkan ia yang terlatih,
yang telah menaklukkan
dirinya sendiri
(Dhammapada, XXIII.4)

Aku telah menaklukkan semuanya,
Aku mengetahui semuanya,
Aku tidak dipengaruhi apapun.
Dengan meninggalkan segalanya,
dengan melepaskan semua nafsu keinginan (tanha)
Aku telah mengalami pembebasan.
Kalau semuanya ini Aku dapatkan atas
Usaha-Ku sendiri, maka kepada siapa Aku
harus mengaitkannya?
(Dhammapada, XXIV.20)

Kosongkan perahu[16] ini, O Bhikkhu!
Tanpa Engkau di dalamnya,
perahu akan bergerak lebih laju;
buanglah nafsu dan kebencian,
maka engkaupun akan menuju Nirvana
(Dhammapada, XXV.10)

Tanggungjawab diri sendiri untuk mengupayakan pembebasan, memasuki Nirvana, lepas dari lingkaran kematian dan kelahiran-kembali, khususnya dengan meniadakan Tanha, nafsu keinginan yang merusak, ditekankan dalam Buddhisme Theravada.

Dari perspektif aliran Mahayana, Thomas Cleary, dalam menafsirkan ucapan ini, melihat kepentingan sangha, ”paguyuban”. ”Sangha” di sini secara harfiah dan rohaniah mengacu kepada orang-orang yang mencapai dan memakai kebenaran melalui pengajaran (Dhamma) yang diuraikan oleh sang Buddha. Di dalam Sangha inilah perlindungan dari sang Buddha dan pengajaran-Nya diperoleh. Sangha bukan sekadar suatu pengakuan, ibadah atau lembaga/pranata, tetapi pada hakikatnya bersifat rohaniah, mengacu kepada cinta kasih semesta dan kenyataan objektif itu sendiri.[17] Di dalam kawasan cinta kasih semesta sebagai kawasan perlindungan, orang baru betul-betul memahami dan mengalami jalan-jalan pembebasan sejati untuk memasuki Nirvana. Dalam hal ini, cinta kasih menjadi konteks dialaminya pembebasan dari dukkha. Cinta kasih di sini adalah cinta kasih sang Buddha sendiri dan para murid-Nya yang menerima Dhamma dari-Nya, dan cinta kasih semesta ”yang berakar di dalam Nirvana, yang tanpa kecuali memperhatikan setiap jiwa dan berada dalam setiap jiwa itu, dan pada saat yang tepat akan menarik setiap jiwa itu ke tujuan.”[18] Dalam Dhammapada XXV. 9 terdapat sabda Gautama yang memakai kata ”cinta kasih” (metta) untuk kata ”paguyuban” (sangha).

Bhikku yang diam di dalam cinta kasih (metta)
akan berbahagia di dalam Pengajaran (Dhamma)
sang Buddha serta mencapai Keadaan damai
dan bahagia, di mana segala yang
sudah digariskan berakhir.

Dari sudut pandangan aliran Mahayana, jelaslah bahwa dalam mencapai Nirvana ada rakhmat, bantuan dan bimbingan yang diberikan kepada seorang Buddhis. Tema ini dengan bagus sekali dibuat liriknya oleh Shantideva, seorang penyair dan orang suci Buddhis:

Semoga aku menjadi penawar bagi si sakit
penyembuh dan perawatnya sehingga penyakit itu
tidak akan kambuh lagi;
Semoga aku mencurahkan makanan
bagaikan hujan lebat,
dan memuaskan segala rasa lapar dan dahaga;
Semoga aku menjadi minuman dan daging
yang akan mengakhiri kelaparan zaman ini;
Kuserahkan tanpa peduli, seluruh hidup
dan kesenanganku, seluruh kebenaran diriku
di waktu lampau, di saat ini dan
di masa yang akan datang, sehingga
semua makhluk dapat sampai ke tujuannya.[19]

Siapakah yang memberikan rakhmat, bantuan dan bimbingan ini? Tentu saja pertama-tama adalah Gautama sendiri yang telah mencapai Nirvana dan menjadi Sang Buddha, melampaui kemanusiaan-Nya dan menjadi ilahi, sebagai Tuhan Penyelamat dunia, Tuhan Yang Melihat ke bawah dengan Penuh Kasih Sayang. Selain itu, aliran Mahayana mengenal Bodhisatva, sebagai tujuan setiap orang Buddhis. Bodhisatva adalah ”seorang yang hakikat dirinya (satva) adalah kearifan sempurna (bodhi), seorang makhluk yang walaupun telah mencapai tepi Nirvana, dengan sukarela melepaskan hadiahnya itu supaya ia dapat kembali ke dunia ini, sehingga orang lain dapat mencapai Nirvana itu. Dengan sengaja, ia seakan-akan ’menghukum’ dirinya sendiri dengan melayani orang lain sepanjang hidupnya, supaya dengan mengambil manfaat dari pengurbanan yang sebetulnya sudah di luar kewajibannya itu, orang lain dapat masuk ke Nirvana lebih dahulu. Seorang Bodhisatva adalah seorang yang bersumpah untuk tidak pergi meninggalkan dunia ini sampai rumput sendiripun telah memperoleh pencerahan rohani.”[20] Bodhisatva harus ada di dalam dunia sepanjang masih ada kesengsaraan dan Nirvana: kehadirannya di dalam dunia dimaksudkan untuk menyelamatkan ”segala sesuatunya”.[21]

Dengan demikian, di dalam agama Buddha secara keseluruhan kita lihat ada dua penekanan dalam rangka manusia mencapai pembebasan dan pencerahan. Yaitu pada satu sisi, tekanan pada usaha dan tanggungjawab manusia sendiri, dan pada sisi lainnya, tekanan pada rakhmat dan kasih karunia dari sang Buddha dan Bodhisatva.

Dalan penglihatan Thomas Cleary, ”perahu besar” hanya dapat diluncurkan kalau sang pengemudinya sudah terampil mengayuh ”perahu kecil”; dengan demikian kedua aliran ini saling memerlukan. Kalau aliran ”perahu kecil” membawa seorang Buddhis, di dalam pengalaman pencerahan pribadi, meninggalkan bumi, memasuki sorga/nirvana, maka aliran ”perahu besar” menghubungkan bumi dan sorga melalui perantara Bodhisatva.[22]


Jangan Mengucapkan Saksi Dusta!


Jadi harus diakui bahwa agama-agama Islam, Hindu dan Buddha memberi tempat yang sangat penting pada kasih karunia Allah dalam hubungan-Nya dengan manusia. Agama-agama ini pada dasarnya adalah agama-agama kasih karunia, dengan tidak mengabaikan tanggungjawab pada pihak manusia sendiri untuk beribadah kepada Yang Ilahi di dalam seluruh kehidupannya. Jadi, orang-orang Kristen janganlah terus-menerus melanggar perintah Allah, ”Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu manusia!”, melalui dan dalam kesaksian mereka bahwa di dalam agama-agama lain tidak ditemukan anugerah Allah, bahwa di dalam agama-agama lain yang ditekankan hanyalah amal ibadah manusia dalam rangka ia mencari keselamatannya sehingga pada akhirnya ia berada dalam keadaan serba tidak pasti! Padahal sebetulnya di luar kekristenan ada anugerah Allah!


Pada pihak lain, orang-orang Kristen juga ”harus mengasihi dirinya sendiri” dengan bersedia mengakui bahwa harus diberikan tempat pada usaha dan tanggungjawab manusia ”untuk mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12) dan menunjukkan ”iman yang bekerja oleh kasih” (Galatia 5:6) sebab ”iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:17,20). Orang-orang Kristen juga jangan lalai memperhatikan pernyataan Tuhan Yesus Kristus tentang apa yang akan ia lakukan pada kedatangannya nanti di akhir zaman: ”Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya!” (Wahyu 22:12).

Kalau sebagai orang-orang Kristen Reformatoris mereka yakin bahwa mereka diselamatkan karena ”sola gratia” dan ”sola fide”, itu sangat baik! Tetapi adakah pada masa kini dan di akhir zaman bukti lain yang ampuh selain apa yang manusia lakukan selama hidup mereka bahwa mereka memang benar-benar sudah hidup dalam keselamatan karena kasih karunia yang mereka terima melalui iman? Penulis yakin tidak ada! Tidak ada dualisme antara iman dan perbuatan. Keduanya mengungkapkan realitas tunggal kehidupan manusia di hadapan Allah. Orang-orang Kristen Reformatoris mungkin sukar menerima kebenaran ini karena semangat zaman Reformasi abad 16 masih menguasai mereka yang hidup pada masa kini di abad 21, ketika saudara-saudara mereka dari kalangan Katolik dan dari agama-agama lain terus menerus menjadi berkat buat dunia ini melalui pelayanan dan kesaksian mereka yang bertolak dari Kitab Suci, teologi dan dogma-dogma mereka!

Kesulitan mereka mungkin sama atau serupa dengan kesulitan besar yang dialami Paulus ketika ia hanya bisa mendiskreditkan Taurat berhadapan dengan Injil di dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Tetapi ketika ia menulis surat Roma, ia sudah jauh lebih matang dan seimbang. Di situ Paulus tegas-tegas menyatakan dan mengingatkan orang-orang Kristen pada zamannya bahwa ”akar” dari kekristenan adalah agama Yahudi, agama Taurat; dan tanpa akar ini tidak mungkin ada suatu agama dunia yaitu kekristenan (Roma 11:17-18). Dan kekristenan yang berakar pada agama Taurat itu pada akhirnya juga menjadi suatu lembaga keagamaan yang di dalamnya pengamalan Taurat berjalan berdampingan dengan penerimaan keselamatan dari Yesus Kristus, tanpa pihak yang satu menghakimi pihak yang lainnya, karena ”setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah” (Roma 14-15; kutipan dari 14:12).

Dan bahwa ketaatan pada Taurat bisa berjalan berdampingan dengan pembebasan dan keselamatan sebagai buah prakarsa dan kasih karunia ilahi bukanlah tema yang asing bagi agama Yahudi (lihat antara lain Keluaran 20:2 dyb). Ketaatan pada Taurat sebagai wujud cinta kasih kepada Allah sang Pemberi Taurat yang telah membebaskan Israel, membentuk jati diri bangsa Yahudi.



Catatan-catatan


[1] Tentu banyak nas Alkitab yang dengan tepat telah diajukan untuk mendukung ajaran (Reformatoris) ini, antara lain: Roma 3:23-24 (“semua orang telah berbuat dosa dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”); Efesus 2:5,8 (“sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”); Titus 3:7 (“supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya berhak menerima hidup yang kekal”); Yohanes 3:16 (“karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”).

[2] Kutipan ayat-ayat suci Alquran dalam tulisan ini diambil dari Alquran terjemahan Departemen Agama RI (Al Qur’an Dan Terjemahnya, Juz 1- Juz 30), edisi baru, revisi terjemah Januari 1993.

[3] The Holy Qur’an. English Translation of the Meaning and Commentary, disunting dan direvisi oleh The Presidency of Islamic Researches IFTA, CALL and GUIDANCE, Al-Madinah, Al-Munawarah: King Fahd Holy Qur-an, Printing Complex, 133.

[4] Nurcholish Madjid, Pintu-pintu Menuju Tuhan, penyunting: Elza Peldi Taher, pengantar oleh Goenawan Muhammad (Jakarta: Paramadina, 1995) 4-5, 14-15.

[5] Lulusan Vedic Department Gurukala Kangri University Hardwar, Uttar Padesh, India (1993).

[6] I Made Titib, Ketuhanan dalam Weda, penyunting: Putu Setia (Jakarta/Denpasar: Pustaka Manikgeni, April 1994) 16.

[7] I Made Titib tidak menyangkal bahwa monoteisme dalam agama Hindu muncul sebagai hasil perkembangan sejarah pemikiran ketuhanan dalam agama Hindu, mulai dari Politeisme alamiah, Politeisme terorganisir, Henoteisme, sampai kepada Monoteisme dan akhirnya Monisme. Lihat Titib, Ketuhanan dalam Weda, 18-23.

[8] Pemikiran ketuhanan seperti ini ditemukan juga di dalam Alkitab, khususnya dalam gambaran Alkitab tentang para malaikat yang menjadi pelayan Allah di surga atau menjadi utusan-Nya ke bumi. Lihat misalnya Ayub 1:6-12; Mazmur 89:7.

[9] Pemikiran seperti ini ditemukan kesejajarannya dalam Alkitab. Selain segi kekodratian Allah yang kuat sekali ditekankan dalam Alkitab (antara lain Keluaran 3:8; Yohanes 1:14), segi keadikodratian Allah Yang Esa juga ditekankan di dalamnya, seperti ditemukan antara lain dalam Mazmur 145:3 (”Kebesaran Allah tidak terduga”); 2 Korintus 12:4 (”kata-kata-Nya tidak terkatakan”); 1 Timotius 6:16 (”bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, dan tak pernah dilihat oleh seorangpun”); 1 Korintus 13:9,12 (”diketahui dengan tidak lengkap dan dikenal dengan tidak sempurna, hanya samar-samar”).

[10] I Made Titib, Ketuhanan dalam Weda, 61.

[11] Ovey N. Mohammed, “Yesus dan Krisna”, di dalam R.S. Sugirtharajah, Wajah Yesus di Asia, diterjemahkan oleh Ioanes Rakhmat (Jakarta: Gunung Mulia, 1994) 22-26, kutipan hlm. 31.

[12] Dhammapada. The Sayings of Buddha, diterjemahkan dari Kanon Pali dan diberi komentar oleh Thomas Cleary (N.Y.: Bantam Books, 1995); bab-bab dan ayat-ayat dalam tulisan ini mengikuti pembagian Thomas Cleary. Lihat juga Dhammapada, karya Biksu Narad Mahathera, diterjemahkan oleh Tirtasanti (Pustaka Karaniya: 1994, cetakan ke-6).

[13] Jalan Beruas Delapan menuju Nirvana [=lenyapnya (ni) nafsu keinginan (vana)] mencakup: pengertian yang benar, pikiran yang benar, ucapan yang benar, perilaku yang benar, cara hidup yang benar, usaha yang tepat, ingatan/kesadaran yang benar, dan pemusatan diri yang benar.

[14] Terjemahan Tirtasanti (Dhammapada, bab XXV. 380) berbunyi: ”Sesungguhnya diri sendirilah juru selamat,...”

[15] Thomas Cleary, Dhammapada, 123.

[16] Gambaran tentang ”perahu kosong” menunjuk pada penguasaan seseorang atas dirinya sendiri sehingga dirinya tidak menyusahkan baik dirinya sendiri maupun diri orang-orang lain. Lihat Thomas Cleary, Dhammapada, 119.

[17] Thomas Cleary, Dhammapada, 66-67.

[18] Huston Smith, Agama-agama Manusia, penerjemah: Saafroedin Bahar (Jakarta: Yayasan Obor, 1985) 160.

[19] Dari Bodhicharyavatara, gubahan Shantideva; lihat Huston Smith, Agama-agama Manusia, 160.

[20] Huston Smith, Agama-agama Manusia, 161-162.

[21] Frithjof Schuon, Treasures of Buddhism (Bloomington, Indiana: World Wisdom Books, 1993) 113.

[22] Thomas Cleary, Dhammapada, 5-6.



Post a Comment




Silahkan beri komentar dengan bijak & jangan sampai komentar anda masuk dalam {COMMENTS SPAM}. Thanks


 
Top